Kajian
Ustaz Abdul Khalim Tekankan Pentingnya Kelapangan Hati dan Kecerdasan Beragama
KalamTV Admin
30 Apr 2026
6 views
No image available
Bogor (Kalamtv.id) – Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Ustaz Abdul Khalim membedah secara mendalam mengenai urgensi hidayah dan kecerdasan beragama dalam kajian Tadabbur Al-Qur’an Surah Az-Zumar ayat 22–31 di Mushola Al I’tisham, Tanah Sareal, Kota Bogor, Selasa (28/4/2026).
Dalam kajian yang diselenggarakan oleh Majelis Taklim Ruhul Itishom, Ustaz Khalim menekankan bahwa kelapangan hati merupakan kunci utama bagi seseorang untuk menerima cahaya kebenaran Islam.
​Ia menjelaskan bahwa individu yang memiliki kelapangan dada akan merasakan kemudahan dalam memahami dan menjalankan ajaran agama. Sebaliknya, hati yang keras akan sulit menerima kebenaran dan cenderung terjebak dalam kesesatan.
​"Orang yang dilapangkan dadanya akan berada dalam cahaya dari Allah. Hidupnya terasa jelas dan ringan. Ini berbeda dengan kondisi hati yang keras, di mana segala sesuatu terasa gelap dan sulit," ungkapnya di hadapan jamaah.
​Ia juga menyoroti keistimewaan Al-Qur’an sebagai "sebaik-baik perkataan" yang mampu memberikan dampak fisik dan psikologis bagi orang beriman. Menurutnya, bagi mereka yang memiliki rasa takut kepada Allah, mendengarkan ayat suci dapat melembutkan hati, dan menenangkan jiwa.
​Selain itu, Ustaz Khalim meluruskan persepsi masyarakat mengenai makna zikrullah. Ia menegaskan bahwa mengingat Allah bukan sekadar aktivitas lisan, melainkan wujud nyata ketaatan dalam mematuhi perintah dan menjauhi larangan-Nya.
​"Ukuran seseorang benar-benar ingat kepada Allah adalah ketaatannya, bukan seberapa banyak ucapan zikirnya saja," tegasnya.
​Dalam aspek literasi, beliau menggarisbawahi pentingnya memahami bahasa Arab untuk mendalami makna Al-Qur’an secara presisi. Beliau mencontohkan kata "sombong" yang dalam bahasa Arab memiliki nuansa berbeda antara ujub dan takabur. Pemahaman bahasa asli dinilai krusial agar tidak terjadi kesalahan tafsir.
​Menutup kajian, Ustaz Khalim mengajak umat Muslim untuk menjadi pribadi yang cerdas. Kecerdasan beragama, menurutnya, adalah kemampuan membedakan hak dan batil serta ketajaman dalam mengambil keputusan terbaik, termasuk memilih risiko terkecil di antara dua keburukan.
​"Al-Qur’an melatih kita menjadi cerdas untuk fokus memperbaiki hal buruk, bukan memperdebatkan hal yang sudah jelas baik," ujarnya.
​Kajian ini diakhiri dengan pesan agar jamaah menjaga konsistensi tilawah Al-Qur'an secara utuh sebagai upaya menjamin keselamatan di akhirat kelak.
Rep: Amanda Helma
11 hari yang lalu
Bagikan artikel ini
Bantu sebarkan informasi bermanfaat ini ke media sosial