Kajian
Menata Luka, Menemukan Tenang: Perjalanan Healing di Kajian Muslimah Bogor Raya
Syaiful Falah
6 hari yang lalu
113 views
No image available
Bogor (KalamTV.id) — Suasana di Masjid Alumni IPB terasa hangat dan penuh keheningan yang menenangkan. Ratusan muslimah duduk bersila, menyimak dengan saksama setiap kalimat yang disampaikan oleh Ummi Lisna Oktaviani dalam kajian bertajuk “Kesehatan Mental & Emosi Wanita”, yang diselenggarakan oleh Muslimah Bogor Raya, Sabtu (2/5/2026).
Di tengah kehidupan yang kian cepat dan penuh tekanan, perempuan kerap berada dalam dilema batin. Ingin bersikap lembut, namun emosi kerap meluap. Tak ingin menyakiti, tetapi justru kata-kata yang keluar sering berujung penyesalan. Dalam suasana itulah, kajian ini seolah menjadi ruang jeda—tempat perempuan diajak menengok ke dalam diri.
“Sering kali kita tidak ingin marah, tapi tetap kalah oleh hawa nafsu,” tutur Ummi Lisna. Kalimat itu menggantung di udara, seolah mewakili kegelisahan banyak perempuan yang hadir siang itu.
Ia kemudian mengajak peserta memahami kembali jati diri perempuan sebagai madrasatul ula—sekolah pertama bagi anak-anaknya. Dari sanalah, pentingnya menjadi perempuan salihah bukan sekadar ideal, melainkan kebutuhan.
Namun, perjalanan menuju ketenangan jiwa, menurutnya, bukan sesuatu yang instan. Healing, yang kerap dipahami sebagai pelarian sesaat melalui hiburan, justru dimaknai berbeda dalam kajian ini. Healing adalah perjalanan panjang—bahkan seumur hidup—untuk terus belajar, memperbaiki diri, dan mendekat kepada Allah.
Dalam pemaparannya, self healing dijelaskan sebagai proses memulihkan mental, emosi, dan batin secara mandiri. Bukan dengan menghindari masalah, tetapi dengan menghadapinya melalui muhasabah—introspeksi diri yang jujur—dan menyerahkan segala urusan kepada Sang Pencipta.
“Luka batin itu muncul dari emosi yang dipendam—marah, kecewa, sakit hati. Kalau tidak diselesaikan, bisa berdampak pada kesehatan fisik dan hubungan rumah tangga,” jelasnya.
Ia mengibaratkan orang lain hanya sebagai “tukang pos", perantara dari setiap peristiwa yang Allah hadirkan. Di balik setiap luka, ada pesan yang ingin disampaikan: bahwa masih ada bagian dalam diri yang perlu diperbaiki.
Proses healing, lanjutnya, dimulai dari keberanian untuk menyadari dan menerima emosi. Bukan menolak atau menutupi, melainkan mengakui dan mengembalikannya kepada Allah. Dalam praktiknya, peserta diajak melafalkan kalimat sederhana namun penuh makna: menerima, ikhlas, rida, bersyukur, dan pasrah.
Tangisan pun, menurutnya, bukan tanda kelemahan. Justru menjadi bagian dari pelepasan emosi yang sehat. Bersamaan dengan itu, ia menekankan pentingnya membangun rutinitas ruhiyah—dzikir pagi, tilawah Al-Qur’an, serta membiasakan memaafkan sebelum tidur agar hati tidak dipenuhi “sampah emosi”.
Dalam konteks rumah tangga, perempuan disebut memiliki peran besar dalam menciptakan suasana bahagia. Sikap suami, kata Ummi Lisna, sering kali menjadi cerminan kondisi istri. Maka, yang perlu diperbaiki bukanlah pasangan, melainkan diri sendiri.
“Rezeki itu dari Allah. Suami hanya perantara,” ujarnya, mengingatkan pentingnya menurunkan ego dan meningkatkan ketakwaan.
Ia juga mengingatkan lima “racun kehidupan” yang kerap menggerogoti ketenangan jiwa: kekhawatiran berlebihan terhadap masa depan, penyesalan masa lalu, ketidakmampuan menerima keadaan saat ini, ketergantungan pada validasi orang lain, serta sulitnya memaafkan.
Di penghujung kajian, suasana semakin hening. Pesan yang disampaikan sederhana, namun dalam: ketenangan sejati hanya bisa ditemukan dengan mengingat Allah. Setiap masalah, pasti datang bersama kemudahan.
Muhasabah, menurutnya, bukan hanya membawa ketenangan di dunia, tetapi juga di akhirat. Hati yang bersih dari dendam akan menjadi bekal saat seseorang menutup mata.
Kajian itu pun berakhir, namun pesannya seolah terus bergema. Bahwa kebahagiaan sejati bukan berasal dari harta atau keadaan yang sempurna, melainkan dari hati yang tenang—hati yang penuh syukur dan selalu kembali kepada Allah.
Bagi para muslimah yang hadir, hari itu mungkin bukan sekadar menghadiri kajian. Melainkan memulai—atau melanjutkan—sebuah perjalanan panjang: perjalanan pulang menuju ketenangan diri.
Kajian Muslimah Bogor Raya ini merupakan kajian perdana yang berikutnya akan rutin digelar setiap Sabtu pagi di Masjid Alumni IPB Bogor. Kajian ini pun akan disiarkan langsung oleh KalamTV, media yang menyiarkan berbagai kajian khususnya di Bogor.
Selain Ummi Lisna, setiap pekannya kajian Muslimah Bogor Raya akan menghadirkan narasumber yang tak kalah menarik dan kompeten tentunya. Mereka antara lain; Ustazah Wiwin Habibah, Ustazah Ebira Hasanatina, Ustazah Euis Sufi Jatiningsih, serta dua puteri Habib Rizieq Syihab yaitu Syarifah Najwa dan Syarifah Zahra.
rep/red: nurul/sf
6 hari yang lalu
Bagikan artikel ini
Bantu sebarkan informasi bermanfaat ini ke media sosial