Umum
Perjalanan MT Manasik Hati, Merangkul Jiwa di Tengah Zaman
KalamTV Admin
01 Mei 2026
21 views
No image available
Bogor (Kalamtv.id) - Di sebuah ruang podcast sederhana di Kantor KalamTV beberapa waktu lalu, kisah tentang perjalanan sebuah majelis taklim mengalir hangat.
Bukan sekadar cerita tentang kegiatan rutin keagamaan, melainkan tentang pencarian makna, proses bertumbuh, dan upaya menghadirkan ruang pulang bagi hati yang lelah. Itulah yang tergambar dari perjalanan Majelis Taklim Manasik Hati bersama ketuanya, Oktavia.
Bagi Oktavia, Manasik Hati bukanlah sesuatu yang lahir secara tiba-tiba. Ia tumbuh dari perjalanan panjang sebagai seorang jamaah yang aktif menghadiri berbagai majelis taklim.
Dari sana, ia tak hanya menjadi peserta, tetapi juga dipercaya mengemban peran sebagai pengurus. Pengalaman itulah yang membuka matanya tentang bagaimana sebuah majelis berjalan—tentang semangat yang harus dijaga, sekaligus tantangan yang tak bisa dihindari.
“Majelis itu perlu konsep, perlu arah. Tidak bisa sekadar berjalan begitu saja,” tutur wanita berparas cantik dan berniqab itu dalam perbincangan.
Kesadaran itu menjadi titik awal lahirnya MT Manasik Hati pada 17 Oktober 2023. Namun, alih-alih langsung menggelar kajian, ia memilih menyiapkan fondasi terlebih dahulu. Pengurus dipilih secara selektif, disatukan dalam visi yang sama, dan dibangun komitmennya. Bahkan pada awalnya, hanya tiga orang yang menjadi motor penggerak: ketua, sekretaris, dan bendahara.
Langkah yang tampak sederhana itu justru menjadi kekuatan. Ketika kajian mulai digelar, majelis ini hadir dengan pendekatan yang berbeda. Kajian rutin dilaksanakan setiap Sabtu ketiga setiap bulan, dengan tema yang tidak kaku. Materi disesuaikan dengan kebutuhan jamaah dan dinamika kehidupan yang mereka hadapi sehari-hari.
Di sinilah Manasik Hati menemukan ciri khasnya. Salah satu program yang paling membekas adalah kajian tematik bernuansa reflektif, seperti sesi hipnoterapi bertajuk “Peluk Aku Ya Rob”. Dalam ruang itu, jamaah tidak hanya mendengar ceramah, tetapi diajak menyelami diri, melepaskan beban emosi, dan menemukan kembali ketenangan.
Majelis ini pun menjelma menjadi lebih dari sekadar tempat menimba ilmu. Ia menjadi ruang pemulihan—tempat di mana luka batin perlahan dirangkul, dan hati belajar untuk kembali utuh.
Namun perjalanan Manasik Hati tidak berhenti di ruang kajian. Nilai-nilai yang dipelajari diwujudkan dalam aksi nyata. Program seperti sedekah nasi kotak untuk tunanetra dan gerakan celengan sedekah subuh menjadi bagian dari keseharian jamaah. Dari sini, kebaikan tidak lagi berhenti pada wacana, melainkan menjadi kebiasaan.
Di tengah era digital, dakwah sering kali identik dengan media sosial. Namun Manasik Hati memilih melangkah lebih jauh. Para pengurus aktif bersilaturahmi ke masjid-masjid sekitar, membangun kedekatan secara langsung dengan masyarakat. Hasilnya, kehadiran jamaah tidak sekadar karena undangan atau informasi, tetapi karena adanya rasa memiliki.
Bagi Oktavia, tujuan majelis ini sederhana namun mendalam: menghadirkan ilmu yang berdampak. Ilmu yang tidak hanya didengar, tetapi dipahami dan diamalkan. Di atas itu semua, ada satu hal yang ingin terus dijaga—ukhuwah.
“Yang kita bangun bukan hanya majelis, tapi juga kebersamaan,” ujarnya.
Ke depan, MT Manasik Hati berharap dapat terus berkembang dan tetap istiqomah dalam berdakwah. Tantangan zaman, termasuk derasnya arus media sosial, tidak dipandang sebagai hambatan, melainkan peluang untuk memperluas jangkauan kebaikan.
Pada akhirnya, Manasik Hati bukan tentang seberapa banyak jamaah yang hadir, atau seberapa sering kajian digelar. Ia adalah tentang perjalanan bersama—tentang hati yang saling menguatkan, tentang langkah kecil yang dilakukan dengan istiqomah, dan tentang sebuah tempat yang selalu terbuka bagi siapa pun yang ingin pulang. []
9 hari yang lalu
Bagikan artikel ini
Bantu sebarkan informasi bermanfaat ini ke media sosial