Umum
Perjalanan MT Al Khansa: Dari Rasa Syukur ke Gerakan Dakwah
KalamTV Admin
29 Apr 2026
115 views
No image available
Bogor (Kalamtv.id) - Sebuah percakapan hangat di ruang podcast KalamTV beberapa waktu lalu membuka kisah tentang perjalanan dakwah yang lahir dari hal sederhana: rasa syukur. Di sanalah, Siti Halimah—yang akrab disapa Teh Eyi—membagikan cerita tentang bagaimana Majelis Taklim Al Khansa tumbuh dari obrolan kecil menjadi gerakan yang memberi dampak luas.
Awalnya, tak ada rencana besar. Pada 2019, Teh Eyi masih aktif bekerja di dunia perkantoran. Di tengah rutinitas itu, ia merasakan limpahan nikmat dan pertolongan Allah dalam hidupnya. Dari sanalah muncul kegelisahan sekaligus kesadaran: keinginan untuk memberi kembali, untuk berbuat sesuatu bagi agama.
“Seperti merasa, masa iya dengan semua kebaikan Allah, kita tidak melakukan apa-apa untuk-Nya,” tuturnya.
Dari satu percakapan sederhana dengan rekan kerja, ide itu pun berkembang. Bersama tiga orang sahabat—Teh Dini, Teh Ima, dan Teh Dinda—mereka memutuskan untuk tidak sekadar merencanakan, tetapi langsung bergerak. Empat perempuan ini menjadi penggagas awal berdirinya Al Khansa.
Langkah pertama mereka terbilang nekat, namun penuh keyakinan. Tanpa pengalaman besar dalam mengelola majelis, mereka langsung menggelar kajian perdana di Masjid As-Saafiri, kawasan Hotel Sahira, Bogor. Bahkan, narasumber diundang hanya tiga hari sebelum acara.
“Deg-degan, tapi kami yakin kalau ini niat baik, Allah akan mudahkan,” kenang Teh Eyi.
Keyakinan itu terjawab. Kajian perdana tersebut dihadiri sekitar 40 hingga 50 jamaah—angka yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Dari situlah langkah kecil itu mulai menemukan jalannya.
Seiring waktu, Majelis Taklim Al Khansa berkembang. Dari empat orang penggagas, kini pengurusnya bertambah menjadi sekitar 10 orang, sebagian besar masih aktif bekerja. Di tengah kesibukan, mereka tetap menjaga komitmen untuk berdakwah.
“Sesibuk apa pun, jangan sampai dua kaki kita keluar dari majelis. Minimal satu kaki tetap tertinggal,” ujar Teh Eyi, menggambarkan semangat saling menguatkan di antara pengurus.
Kegiatan Al Khansa pun semakin terstruktur. Kajian rutin digelar setiap pekan dengan tema yang beragam—mulai dari kajian tematik, tadabbur Al-Qur’an, tazkiyatun nafs, hingga pembahasan kitab seperti Al-Hikam. Pendekatan ini membuat jamaah tidak hanya datang untuk mendengar, tetapi juga untuk bertumbuh secara spiritual.
Di balik rutinitas kajian, ada kisah-kisah yang menghangatkan hati. Beberapa jamaah yang awalnya hanya peserta, kini telah mendirikan majelis taklim sendiri. Ada pula jamaah setia yang terus mendukung setiap langkah dakwah Al Khansa.
“Melihat mereka tumbuh, itu lebih dari berkesan,” ucap Teh Eyi yang saat ini sedang menggeluti ilmu Hypnotherapy Islami.
Hingga kini, pergerakan Al Khansa masih berfokus di wilayah Bogor. Namun dampaknya terasa luas. Kolaborasi dengan media seperti KalamTV turut membantu memperluas jangkauan dakwah, menjadikan kajian tidak hanya hadir secara langsung, tetapi juga menjangkau audiens yang lebih luas melalui platform digital.
Di tengah derasnya arus informasi dan distraksi digital, Teh Eyi menyadari tantangan dakwah masa kini tidaklah ringan. Ia menyoroti pengaruh standar sosial yang kerap menyesatkan serta tren yang menjauh dari nilai-nilai agama. Karena itu, menurutnya, dakwah perlu kreativitas—terutama untuk menjangkau generasi muda.
“Kita harus menyamakan frekuensi dengan mereka, memahami dunianya,” jelasnya.
Pendekatan itu diwujudkan dengan menghadirkan narasumber yang relevan dan membangun kedekatan emosional dengan jamaah. Bagi Al Khansa, hubungan batin antara pengurus dan jamaah menjadi kunci agar dakwah tetap hidup dan berkelanjutan.
Tak berhenti di situ, inovasi pun terus dilakukan. Salah satu program terbaru adalah “Ruang Sejenak”, sebuah ruang pendampingan yang berfokus pada kesehatan mental muslimah. Program ini menjadi bukti bahwa dakwah tidak hanya berbicara tentang ilmu, tetapi juga tentang merangkul kondisi jiwa umat.
Ketika ditanya tentang harapan ke depan, jawaban Teh Eyi sederhana namun mendalam: menjadikan Al Khansa sebagai “rumah pulang”.
“Tempat untuk menenangkan hati, menimba ilmu, dan bersama-sama memberi manfaat,” ujarnya.
Di akhir perbincangan, ia meninggalkan pesan yang menjadi inti dari seluruh perjalanan ini—bahwa kebaikan tidak diukur dari besar kecilnya, melainkan dari ketulusan.
Perjalanan Majelis Taklim Al Khansa adalah bukti bahwa dakwah bisa dimulai dari siapa saja, dari mana saja. Dari rasa syukur yang tulus, lahirlah gerakan yang tak hanya menyentuh hati, tetapi juga menggerakkan banyak langkah menuju kebaikan. (SF)
12 hari yang lalu
Bagikan artikel ini
Bantu sebarkan informasi bermanfaat ini ke media sosial