Kajian Nashoihul Ibaad: Sabar, Syukur dan Rida sebagai Tanda Keimanan
Syaiful Falah
13 Mei 2026
194 views
No image available
Bogor (Kalamtv.id) – Jamaah yang memadati Masjid Besar Siti Rukoyah, Pasir Kuda, Kota Bogor pada Senin (11/5/2026) mengikuti kajian rutin kitab Nashoihul Ibaad yang disampaikan oleh Ustaz Hisyam Mukhlas Arruyani. Dalam kajian yang diselenggarakan oleh Majelis Taklim Zikralilmukminat itu, tema yang diangkat berfokus pada tanda-tanda keimanan seorang mukmin.
Ustaz Hisyam membuka kajian dengan menjelaskan sebuah riwayat ketika Nabi Muhammad SAW bertanya kepada para sahabat tentang keadaan mereka di pagi hari.
“Para sahabat menjawab bahwa mereka berada dalam keadaan beriman. Lalu Rasulullah bertanya, apa tandanya? Dari sinilah kita belajar bahwa iman itu harus punya bukti nyata dalam kehidupan,” ujarnya.
Menurutnya, ada tiga tanda utama keimanan yang dijelaskan dalam riwayat tersebut, yaitu sabar terhadap ujian, bersyukur atas kelapangan, dan rida terhadap seluruh ketentuan Allah.
Tentang sabar terhadap ujian (nasbiru alal bala’), Ustaz Hisyam menegaskan bahwa sabar merupakan syarat utama bagi siapa pun yang menuntut ilmu.
“Semakin dekat seseorang kepada Allah dan Rasul-Nya, maka biasanya ujian yang datang juga semakin besar,” katanya.
Ia juga mengingatkan pentingnya adab kepada guru. Menurutnya, keberkahan ilmu sering kali lahir dari kesabaran murid dalam menerima teguran atau didikan keras dari gurunya.
“Kadang ilmu tidak hanya datang dari materi, tetapi dari adab dan kesabaran kita kepada guru,” tambahnya.
Poin kedua adalah bersyukur atas kelapangan (wasykuru alar rakha’). Dalam penjelasannya, Ustaz Hisyam menekankan bahwa kelapangan tidak selalu berarti harta yang melimpah.
“Kelapangan yang paling mahal adalah hati yang lapang. Banyak orang hartanya banyak, tapi hatinya sempit. Itu bukan nikmat yang sesungguhnya,” tuturnya.
Pada kesempatan itu, ia juga mengijazahkan sebuah selawat kepada para jamaah untuk diamalkan setiap pagi dan sore sebanyak 10 kali, yakni:
"Ya Rabbi shalli ‘ala Muhammad waftah minal khairi kulla mughlaq."
Menurutnya, amalan tersebut dapat menjadi ikhtiar spiritual untuk memohon dibukakannya pintu-pintu kebaikan yang tertutup.
Adapun poin ketiga adalah rida terhadap ketentuan Allah (wardha bil qadha), yaitu menerima segala keputusan Allah sejak awal kehidupan hingga akhir hayat.
“Termasuk bentuk rida adalah menerima fisik yang Allah berikan kepada kita, tidak sibuk mengubah ciptaan Allah secara berlebihan kecuali dalam batas yang dibenarkan syariat,” jelasnya.
Selain tiga tanda keimanan itu, Ustaz Hisyam juga menjelaskan tiga tingkatan sabar menurut para arifin.
Tingkatan pertama adalah tarkus syakwa, yakni sabar dengan tidak banyak mengeluh kepada makhluk. Menurutnya, ini adalah derajat para tabi’in.
Ia mencontohkan Abu Bakar Ash-Shiddiq yang saat sakit enggan banyak mengeluh karena merasa masa sehat yang Allah berikan jauh lebih panjang dibanding masa sakitnya.
Tingkatan kedua adalah ar-ridha bil maqdur, yaitu rida terhadap takdir Allah. Ini disebut sebagai derajat orang-orang zuhud.
“Zuhud bukan berarti tidak punya dunia, tapi dunia ada di tangan, bukan di hati. Hatinya tetap fokus kepada Allah,” ujarnya.
Sedangkan tingkatan tertinggi adalah al-mahabbatu lil ibtila, yakni mencintai ujian. Menurutnya, ini adalah maqam para siddiqin—tingkatan orang-orang yang sangat dekat kepada Allah, seperti para nabi dan sahabat utama.
Menutup kajian, Ustaz Hisyam mengingatkan pentingnya istiqamah dalam menghadiri majelis ilmu, terutama di tengah tantangan akhir zaman.
“Kalau ingin iman tetap kuat, jangan tinggalkan majelis ilmu. Mengaji adalah salah satu cara menjaga hati tetap hidup,” pesannya.
Kajian ditutup dengan zikir bersama, pembacaan selawat, serta doa untuk seluruh jamaah dan orang tua agar diberi kesehatan, keberkahan hidup, dan akhir kehidupan yang husnul khatimah.
rep/red: aisyah/sf
116 hari yang lalu
Bagikan artikel ini
Bantu sebarkan informasi bermanfaat ini ke media sosial