Hadir di Pesantren Keluarga, Ikhtiar Ojol Wanita Belajar Jadi Ibu yang Lebih Baik

Syaiful Falah
12 Mei 2026
236 views
No image available
Bogor (Kalamtv.id) - Suasana di Pesantren Keluarga terasa berbeda saat kajian pada Ahad (10/5/2026). Di sebuah ruangan sederhana di kawasan Jalan Kampung Dukuh, Komplek Mekar Baru, Kota Bogor, puluhan perempuan yang berprofesi ojek online berkumpul untuk menghadiri kajian bersama Ummi Lisna Oktaviani.

Para ibu pejuang yang sehari-hari menaklukkan jalanan demi keluarga, untuk sejenak mereka berhenti mengantar penumpang dan makanan, lalu memilih “mengantar” dirinya sendiri menuju ruang refleksi dalam sebuah "Kajian Parenting Driver Ojek Online Wanita".

Tema yang diangkat sederhana namun sangat dekat dengan kehidupan mereka: Parenting.

Ummi Lisna mengajak para peserta menyelami kembali makna menjadi seorang ibu—bukan sekadar pencari nafkah, tetapi penjaga rumah, pendidik anak, sekaligus penentu arah spiritual keluarga.

“Bekerja bukan sekadar mencari uang. Kalau diniatkan untuk keluarga dan karena Allah, maka itu menjadi sedekah terbaik,” ujar Ummi Lisna membuka kajian.

Kalimat itu seperti mengetuk hati banyak peserta. Sebab bagi sebagian besar dari mereka, bekerja di jalan bukan pilihan ideal, melainkan jalan hidup yang harus ditempuh.

Ada yang menjadi tulang punggung keluarga setelah suami sakit. Ada yang harus menghidupi anak-anak seorang diri. Ada pula yang memilih menjadi driver online agar tetap bisa mengatur waktu untuk keluarga, meski berarti harus rela menembus panas, hujan, dan risiko jalanan setiap hari.

Dalam kajian itu, para ibu diajak membangun ulang fondasi spiritual mereka.

Menurut Ummi Lisna, kelelahan fisik sering kali terasa jauh lebih ringan dibanding kelelahan batin. Karena itu, seorang ibu harus menjaga kedekatannya dengan Allah.

“Masalah hidup sering terasa berat karena kita menjauh dari sumber pertolongan. Allah hadir di tengah orang-orang yang menjaga salat, puasa, zakat, dan hadir di majelis ilmu,” katanya.

Ia kemudian mengajak seluruh peserta melafalkan doa yang menjadi pegangan utama para orang tua: Rabbana hablana min azwajina wa zurriyatina qurrata a’yun...—permohonan agar pasangan dan anak-anak menjadi penyejuk mata. Tak sedikit peserta yang tampak menunduk haru.

Namun kajian hari itu tidak hanya bicara soal ibadah. Ummi Lisna juga menyinggung kekuatan pikiran dan ucapan seorang ibu. “Jangan pernah mengatakan hidup kita susah atau anak kita nakal dan tidak berguna. Otak akan bekerja sesuai kata-kata itu,” tegasnya.

Sebaliknya, para ibu diajak membiasakan afirmasi positif—mengucapkan hal-hal baik tentang suami dan anak, meski kenyataannya belum sesuai harapan.

“Katakan: suamiku bertanggung jawab, anakku saleh. Itu bukan berkhayal, tapi sedang merancang masa depan,” ujarnya.

Bagi para driver ojol perempuan, nasihat itu terasa relevan. Banyak di antara mereka yang selama ini memendam stres, amarah, dan kelelahan tanpa tempat bercerita.

Ummi Lisna mengingatkan bahwa emosi yang tak terkelola bisa menjadi sumber penyakit. “Tubuh kita bisa memproduksi hormon bahagia atau hormon stres. Kalau ibu terus menyimpan beban, tubuh ikut sakit,” katanya.

Suasana kemudian berubah semakin hangat ketika pembahasan masuk ke pola asuh anak. Para peserta diingatkan bahwa anak adalah peniru ulung.

“Kalau ingin anak rajin salat, ibunya harus lebih dulu rajin salat. Kalau ingin anak bicara lembut, ibunya harus belajar bicara lembut,” tutur Ummi Lisna.

Ia juga menekankan pentingnya bonding atau kedekatan emosional antara ibu dan anak. Menurutnya, mencari bahagia tidak perlu mahal.

“Cukup jalan berdua, makan bakso dekat rumah, ngobrol sebentar. Sebelum mereka dewasa dan punya dunianya sendiri,” katanya.

Salah satu momen paling emosional terjadi saat sesi praktik menulis surat cinta untuk anak.

Setiap ibu diminta menulis surat jujur berisi rasa sayang, permintaan maaf atas kemarahan yang pernah terjadi, serta doa-doa terbaik untuk masa depan anak-anak mereka.

Ruangan mendadak sunyi. Hanya terdengar isak kecil dan suara pena yang bergerak di atas kertas. Beberapa ibu tak kuasa menahan air mata saat menulis kalimat sederhana seperti: “Maafkan ibu yang sering marah karena lelah. Ibu sangat sayang padamu.”

Surat itu, kata Ummi Lisna, diminta diberikan saat anak-anak mereka tertidur. “Bisikkan doa di telinga mereka. Itu lebih kuat daripada amarah saat mereka terjaga,” pesannya.

Suasana menjadi sangat emosional ketika doa dipanjatkan untuk para ibu pejuang di jalanan—agar setiap tetes keringat mereka menjadi penghapus dosa dan pelindung bagi keluarga yang mereka perjuangkan.

Meski mereka akan kembali ke jalan, kembali menerima order, kembali menghadapi kerasnya hidup. Namun hari itu, mereka pulang dengan sesuatu yang lebih berharga dari sekadar penghasilan harian: keyakinan bahwa perjuangan mereka bukan sekadar pekerjaan, melainkan ibadah.

Dan bahwa di balik setiap ibu yang kuat, ada doa-doa yang diam-diam terus melangit. []

rep/red: intan/sf
117 hari yang lalu

Bagikan artikel ini

Bantu sebarkan informasi bermanfaat ini ke media sosial

Konten Terkait