Kajian
Muttaqien dan Muhsinin Golongan yang Diridhai Allah, Sementara Mujrimin Kelompok Dimurkai
Syaiful Falah
22 Feb 2026
37 views
No image available
Bogor (KalamTV) — Perbedaan mendasar antara golongan muttaqien dan muhsinin dengan mujrimin menjadi sorotan dalam kajian tafsir Al-Qur’an yang disampaikan Prof Dr KH Didin Hafidhuddin pada Ahad (22/2/2026) di Masjid Ibn Khaldun, Kota Bogor.
Dalam kajian bertajuk “Muttaqien dan Muhsinin Dua Kelompok Manusia yang Diridloi Allah, Berbeda Dengan Mujrimin yang Dimurkai Allah”, Kiai Didin menjelaskan bahwa Al-Qur’an secara tegas membedakan nasib dua kelompok manusia berdasarkan pilihan hidup dan kualitas ketakwaannya. Hal itu berdasarkan Tafsir QS Al-Mursalat (77) ayat 41–50.
Balasan Mulia bagi Orang Bertakwa
Merujuk pada ayat 41–43 surat Al-Mursalat dalam Al-Qur'an, Kiai Didin menjelaskan bahwa orang-orang bertakwa (muttaqien) akan memperoleh balasan berupa tempat yang teduh, mata air yang mengalir, serta aneka buah-buahan sesuai keinginan mereka. Kenikmatan tersebut merupakan balasan atas amal saleh yang mereka kerjakan selama di dunia.
“Ini adalah bentuk penghormatan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang menjaga ketakwaan dan konsisten dalam kebaikan,” ujarnya di hadapan jamaah.
Sebaliknya, pada ayat-ayat setelahnya (44–50), Allah menggambarkan ancaman keras bagi para mujrimin, yakni mereka yang mendustakan hari pembalasan dan enggan menaati perintah-Nya.
Hakikat Takwa: Bukan Sekadar Identitas
Dalam penjelasannya, Kiai Didin mengaitkan tafsir Al-Mursalat dengan sejumlah ayat lain yang menjelaskan hakikat takwa.
Pertama, landasan tauhid sebagaimana ditegaskan dalam QS An-Nisa ayat 1, bahwa manusia diciptakan dari satu jiwa. Kesadaran ini menjadi fondasi penghambaan kepada Allah sebagai Rabb semesta alam.
Kedua, pentingnya muhasabah atau introspeksi diri sebagaimana disebutkan dalam QS Al-Hasyr ayat 18. “Orang bertakwa selalu memikirkan hari esok, bukan hanya hari ini. Ia menyiapkan bekal untuk kehidupan akhirat,” jelasnya.
Ketiga, konsep “pakaian takwa” dalam QS Al-A’raf ayat 26. Menurutnya, pakaian fisik hanyalah pelindung lahiriah, sementara pakaian takwa melindungi jiwa dan akhlak manusia.
Tiga Keutamaan Takwa di Dunia
Kiai Didin juga mengutip QS Al-Anfal ayat 29 yang menjanjikan tiga keutamaan bagi orang bertakwa:
1. Furqan, yakni kemampuan membedakan secara jelas antara yang hak dan batil.
2. Penghapusan kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan.
3. Ampunan dari Allah Yang Maha Memiliki Karunia Besar.
Dalam konteks kehidupan modern, ia menilai furqan sangat relevan. “Di tengah derasnya arus informasi dan godaan moral, hanya orang bertakwa yang memiliki kejernihan hati untuk menentukan sikap,” tuturnya.
Konsekuensi Pilihan Hidup
Kajian ini menegaskan bahwa perbedaan antara muttaqien dan mujrimin bukan semata status, melainkan konsekuensi dari pilihan hidup. Takwa adalah kombinasi antara kesadaran akan penciptaan, komitmen beribadah, muhasabah berkelanjutan, dan penjagaan diri dari maksiat.
“Balasan Allah itu adil. Yang menanam kebaikan akan memetik kemuliaan. Yang memilih jalan dosa harus siap dengan akibatnya,” tegas Kiai Didin.
Kajian yang berlangsung khidmat di bulan suci Ramadhan ini menjadi pengingat bagi jamaah bahwa takwa bukan konsep abstrak, melainkan jalan hidup yang berdampak nyata, baik di dunia berupa kejernihan hati dan ampunan, maupun di akhirat berupa kenikmatan surga yang abadi. []
19 hari yang lalu
Bagikan artikel ini
Bantu sebarkan informasi bermanfaat ini ke media sosial