Umum
Mensyukuri 35 Tahun Kajian Tafsir Ahad Pagi bersama KH Didin Hafidhuddin
Syaiful Falah
03 Mar 2026
143 views
No image available
Bogor (KalamTV) - Pagi itu, suasana di Masjid Ibn Khaldun Bogor terasa khidmat. Jamaah duduk bersaf rapi, sebagian membawa mushaf, sebagian lagi menggenggam buku catatan. Di hadapan mereka, Pengasuh Kajian Tafsir Ahad pagi, KH Didin Hafidhuddin, membuka pengajian dengan ungkapan syukur.
“Alhamdulillah kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pengajian kita sudah sampai pada juz yang terakhir, juz ke-30,” ujarnya dalam kajian Ahad pagi (1/3/2026).
Ucapan itu bukan sekadar penanda materi yang tengah dikaji. Ia adalah penanda perjalanan panjang—lebih dari tiga dekade—yang dimulai sejak 1991.
Berawal dari Masjid Al Hijri 1
Pengajian tafsir ini pertama kali digelar di Masjid Al Hijri 1 Air Mancur Bogor pada awal 1991. Saat itu, suasananya sederhana. Jamaah belum sebanyak sekarang, dokumentasi pun masih terbatas. Namun semangat untuk memahami Al-Qur’an secara mendalam sudah terasa kuat.
“Kalau melihat ke belakang, sejak awal tahun 1991, berarti sudah sekitar 34–35 tahun,” kenang Kiai Didin.
Dari Masjid Al Hijri 1 di kawasan Air Mancur itulah kajian tafsir rutin setiap Ahad pagi tumbuh perlahan. Tahun demi tahun, ayat demi ayat dibahas. Hingga akhirnya, pengajian berpindah ke Masjid Al Hijri 2 yang kini berganti nama menjadi Masjid Ibn Khaldun Bogor.
Perpindahan tempat tak mengubah ruh kajian. Justru, di lokasi baru, pengajian semakin tertata dan terdokumentasi lebih baik.
Di awal perjalanan, tidak semua materi tercatat rapi. Namun seiring waktu, lahirlah tradisi pencatatan yang teliti.
“Dulu ada yang mencatat dengan baik, sekarang menjadi staf di Ibn Khaldun. Sudah muhsin, sehingga kita bisa menulis tafsir Al-Baqarah, An-Nisa, dan Al-Maidah. Itu hasil dari pengajian setiap Ahad,” tutur Kiai Didin.
Tak hanya itu, seorang jamaah yang juga guru besar—Prof. Dr. Bustanul Arifin—secara konsisten mencatat setiap penjelasan. “Kata demi kata, kalimat demi kalimat, bahkan titik komanya juga,” ujar Kiai Didin.
Catatan itu kemudian disebarluaskan melalui berbagai grup WhatsApp tak lama setelah pengajian selesai. Dengan cara itu, ilmu yang disampaikan di ruang masjid menjangkau jamaah yang lebih luas, melampaui dinding-dinding fisik.
Tradisi mencatat ini menjadi saksi bahwa pengajian bukan sekadar rutinitas, melainkan proses intelektual yang terus berkembang. Dari lisan menjadi tulisan, dari halaqah kecil menjadi khazanah keilmuan.
Lahirnya KalamTV
Selain ada rutinitas pencatatan, alhamdulillah sejak 2016 berdiri sebuah media bernama KalamTV. Media ini diinisiasi oleh salah satu jamaah bernama Otto Ahmad Gozali. Dengan peralatan seadanya, ia rutin meliput kajian Ahad pagi di Masjid Al Hijri 1.
Dengan diliput KalamTV secara live, kajian tafsir tersebut akhirnya bisa disaksikan oleh siapapun dan dimanapun berada, termasuk jamaah yang berada di luar negeri.
Dari awal perjalanan meliput kajian tafsir Ahad pagi itulah, KalamTV saat ini terus berkembang dan bisa meliput banyak majelis ilmu dari berbagai masjid di Bogor. Saat ini setiap pekannya, media yang pembinanya Kiai Didin itu bisa meliput hingga 50 kajian, artinya dalam sebulan KalamTV meliput 200 majelis ilmu.
Suasana Kajian di Masjid Ibn Khaldun Bogor
Selain menikmati berbagai khazanah keilmuan melaui kajian tafsir Al-Qur'an sebagai "santapan rohani", jamaah juga mendapatkan "santapan jasmani" berupa makanan dan minuman yang diberikan oleh pengurus DKM Ibn Khaldun setiap selesai kajian.
Saat ini makanan yang disediakan adalah makanan rebusan dari umbi-umbian, makanan sehat dan tentunya digemari jamaah. Sementara minumannya, berupa air mineral, teh hangat, kopi dan jahe yang menyehatkan badan.
Dengan adanya suguhan makanan itulah membuat suasana pengajian semakin nikmat dan penuh manfaat. Semua jamaah dengan masing-masing circlenya, baik itu keluarga, sahabat maupun kenalan baru saling bercengkrama usai kajian sambil menikmati hidangan.
Sahabat Masjid
Di antara jamaah, khususnya perwakilan dari berbagai masjid dan sudah mengikuti kajian Ahad pagi sejak lama, mereka berinisiatif membentuk komunitas bernama Sahabat Masjid dengan pembinanya juga Kiai Didin. Sahabat Masjid sendiri, memiliki kajian tersendiri setiap dua pekan sekali.
Biasanya, mereka yang tergabung dalam Sahabat Masjid berkumpul usai kajian Ahad pagi. Sambil sarapan makanan rebusan mereka membincangkan masalah keumatan yang sedang terjadi. Biasanya dari perbincangan ini, muncul gagasan untuk membuat kegiatan-kegiatan seperti tabligh akbar atau sosial kemasyarakatan.
Menuntaskan 30 Juz, Menyusun Bahasa Populer
Kembali ke kajian Ahad pagi. Saat ini, ketika kajian telah sampai pada juz ke-30, Kiai Didin menyimpan harapan besar. Ia ingin seluruh rangkaian tafsir 30 juz disusun ulang dalam bahasa yang lebih populer dan mudah dipahami.
“Kalau sudah selesai, saya merencanakan untuk disusun kembali dalam bahasa yang populer, dikaitkan dengan bahasa yang mudah dipahami. Tapi tentu banyak hal yang perlu disempurnakan dan diperbaiki,” katanya.
Menurutnya, bukan hanya materi utama yang penting untuk dihimpun, tetapi juga pertanyaan-pertanyaan jamaah setiap pekan. Sebab dari sanalah terlihat denyut persoalan umat.
“Saya melihat pertanyaan-pertanyaan itu adalah masalah aktual yang terjadi saat itu. Ini khazanah yang bermanfaat bagi kita. Ternyata ada dinamika pengetahuan, dinamika persoalan yang dibahas dalam sudut pandang Islam,” jelasnya.
Istiqamah di Tengah Ujian Zaman
Bagi Kiai Didin, perjalanan panjang pengajian tafsir ini bukan sekadar capaian akademik atau administratif. Ia adalah cermin perjalanan umat bersama Al-Qur'an.
“Umat kita selalu dihadapkan pada berbagai persoalan. Tetapi justru dengan persoalan-persoalan itu, mudah-mudahan kita tetap istiqamah, semakin konsisten,” ujarnya.
Di tengah perubahan zaman—dari catatan manual hingga era digital dan pesan instan—kajian tafsir Ahad pagi tetap berjalan. Konsisten, perlahan, namun pasti.
Di Masjid Ibn Khaldun Bogor, setiap Ahad pagi bukan sekadar rutinitas. Ia adalah perjumpaan antara wahyu dan realitas, antara teks suci dan persoalan aktual, antara generasi awal dan generasi hari ini.
Tiga puluh lima tahun telah berlalu. Juz demi juz telah dituntaskan. Namun bagi KH Didin Hafidhuddin dan para jamaahnya, perjalanan memahami Al-Qur’an akan terus berlanjut—dengan doa yang sama: diberi umur panjang yang berkah, agar bisa menuntaskan tafsir 30 juz secara lengkap dan menghadirkannya sebagai warisan ilmu yang bermanfaat. (SF)
10 hari yang lalu
Bagikan artikel ini
Bantu sebarkan informasi bermanfaat ini ke media sosial